Hello there! I have to inform you that out of the sudden some of my pictures in the old posts are gone and replaced by a really-not-interesting forbidden sign. I already tried to renew the html code but it still wasn't working. I'm not a tech savvy, so the only option left is I have to reupload the pictures one by one. I'm still working on it now. Apologize for the inconvenience. Cheerio!

July 24, 2014

MOVIE // Oculus (2013)

"You see what it wants you to see."

Sutradara : Mike Flanagan
Skenario : Mike Flanagan & Jeff Howard

Saya bukan penikmat film horor. Film horor terakhir yang saya tonton adalah The Conjuring dan menurut saya sangat biasa-biasa saja. Karena itulah saat saya memutuskan untuk menonton Oculus, saya tidak berekspektasi apa-apa. Jujur saja, alasan saya untuk menonton film ini hanya karena 1) cukup banyak review yang mengatakan bahwa hasil editing film ini sangat cantik, dan 2) Karen Gillan.


Oculus merupakan film horor psikologi yang tidak 'kurang ajar' seperti film horor kebanyakan. Jika film horor lain rata-rata mengutamakan adegan dimana si setan tiba-tiba lompat ke layar, maka berbeda dengan Oculus. Si jahat di film ini cukup 'sopan', tidak mengagetkan, dan berwajah cukup ramah dibandingkan film-film horor lainnya. Agak bingung untuk memulai review tentang film ini darimana, karena scene dan storyline-nya yang lompat-lompat. So lemme try...


Storyline
Kaylie Russel (Karen Gillan), yang berkerja pada suatu perusahaan pelelangan, menjemput adik laki-lakinya, Tim Russell (Brenton Thwaites) yang baru keluar dari penjara karena membunuh. Kaylie kemudian menagih janji Tim kepadanya sepuluh tahun yang lalu, untuk memusnahkan sebuah cermin. Kaylie telah mempersiapkan rencana yang sangat rapi (dan canggih) untuk memusnahkan cermin tersebut. Satu-satunya yang menghalangi rencana mereka hanyalah sang cermin.


Sepuluh tahun yang lalu, Alan Russell (Rory Cochrane) dan Marie Russell (Katee Sackhoff) baru saja pindah rumah. Little Kaylie (Annaline Basso) dan Tim (Garrett Ryan) sedang sibuk bermain. Pada dialog-dialog awal diungkapkan bagaimana Marie merasa cermin yang dibeli dan diletakkan Alan di ruang kerjanya sedikit anti-mainstream.... and the story goes.

Keanehan mulai terjadi. Dimulai dari Kaylie yang melihat sosok wanita sedang merangkul Alan di ruang kerjanya dan Marie, with all her insecurities, berasumsi bahwa Alan menjalin hubungan dengan wanita lain. Anjing mereka, Mason, pun menjadi korban pertama dari rumah keluarga Russell. Mason dikunci ke dalam ruang kerja Alan dan lenyap... ini merupakan pernyataan yang dipercayai Kaylie. Sedangkan Tim percaya bahwa Mason sakit dan dibawa oleh Alan ke dokter hewan, namun Mason tidak bisa bertahan.

Semua scene yang saya ceritakan di atas terjadi secara bergantian. Pada scene pertama, kita akan bertemu dengan keluarga Russell sepuluh tahun yang lalu. Scene selanjutnya berganti ke masa sekarang. Selanjutnya berganti lagi dengan scene dari sudut pandang Little Kaylie atau Tim. Teknik penceritaan yang 'bertabrakan' inilah yang menjadi senjata dari Oculus. Mike Flanagan melakukan proses sunting film dengan hasil yang sangat memuaskan sehingga penonton dapat melahap dua buah cerita yang memiliki rentang sepuluh tahun di saat yang bersamaan.


Perbedaan pola pikir dan sudut pandang menjadi salah satu sajian yang sangat menarik dari film ini. Cermin tersebut membutakan psikologis setiap calon korbannya. Mulai dari Kaylie yang merasa dia melukai dirinya, Tim yang merasa dia pergi meninggalkan rumah, dan masih banyak lagi asumsi-asumsi yang cermin tersebut berhasil selipkan ke alam bawah sadar, bukan hanya Kaylie dan Tim, tapi termasuk juga saya.

Plus
  • Secara cerita, saya yakin bukan hanya saya yang bisa menebak ending dari film ini. Anehnya, saya masih merasa sedih saat sampai ke akhir film. Sekali lagi, ini film horor psikologi, mungkin emosi saya sudah terpengaruh sepanjang menonton film ini.
  • Karen Gillan is so bad ass. Pertama kali saya menikmati akting Karen Gillan adalah di serial legendaris Inggris, Doctor Who. Peran Karen sebagai Amelia 'Amy' Pond yang digambarkan sebagai gadis biasa (minus the whole time-traveler thingie) membuat saya penasaran bagaimana jika Karen diletakkan sebagai pemeran utama di film horor psikologi. Hasilnya... sangat menarik. Karen memerankan Kaylie dengan cemerlang. Scene saat Kaylie menendang pot bunga without skipping a beat, saat Kaylie menggigit 'apel', bertemu dengan tunangannya di rumahnya, dan masih banyak lagi, Karen sukses menggambarkan bagaimana psikologinya tercabik antara kenyataan dan halusinasi. Oh dan aksen Scottish Karen benar-benar tersembunyi!
  • Brilliant editing! Film ini seolah menyajikan dunia paralel pada rumah keluarga Russell. Suara teriakan little Kaylie seolah menjadi bisikan Kaylie pada Tim. Suara dentuman pintu, penampakan, bahkan suara tembakan dari sepuluh tahun yang lalu bisa menjadi sama dengan masa sekarang.
  • Ide cerita yang out of the box. Oculus tidak menakuti melalui penampakan atau efek-efek pasaran lainnya, tapi melalui permainan psikologi.

Minus
  • Seperti film horor di pasarnya, Mike Flanagan meninggalkan akhir cerita terbuka sehingga penonton hanya bisa berasumsi. It could be a good thing, but for me in this case it is not. Masih ingat kan di atas tadi saya menyebutkan bahwa saya merasa sedih..
  • Alur cerita pada awal film terkesan lamban. Untungnya saya masih bisa terdistraksi dari kebosanan melalui teknik editing yang menarik dan dialog-dialog cepat Kaylie. Pada tengah film, saat cerita semakin menarik, karakter semakin terbangun, dan misteri semakin banyak, tiba-tiba alur kembali melambat. Rasanya sudah tidak begitu menarik lagi.. mungkin karena semua 'senjata' sudah terlanjur keluar di awal cerita. Sayang sekali.. karena saya mulai menyukai film ini.
  • Kaylie Russell hanyalah satu-satunya karakter yang membekas karena akting yang memukau. Lain halnya dengan Tim Russell, yang walaupun memiliki porsi sama besar dengan Kaylie, namun tidak begitu membekas. Saya malah lebih tertarik dengan Marie Russell yang bisa berubah dari an insecure wife into a beast and then a loving parent. Padahal porsi Marie Russell tidak begitu banyak.
  • Ayunan ponytail Kaylie pada bagian awal film membuat saya jadi rindu dengan rambut panjang saya :p


all pictures from here

March 22, 2014

Cap, Robe, Graduation!

Who has two thumbs and a very happy valedictorian?


......me!

A few days ago, I had my Judicium Day. I wore a kebaya with ulos (a traditional Bataknese fabric) wrap and skirt. The outfit belong to my mom. I didn't have any kind of kebaya to wear because the dresscode was so out of the sudden. So I wore it. Turns out everyone loves it. My assessor can not took her hands off the wrap. :D

I also delivered my speech that day. In front of the Dean, head of study program, well almost all of my lecturers. That feels surreal and I was so nervous. The pink gift and a postcard on the left is from my head of study program. It was given to the top three highest GPA.


A few days later, we have the graduation ceremony. The picture on the right was some appreciation gifts from the university to all valedictorians of each faculty. On the ceremony, all of the valedictorian's parents were standing right behind us and we have to give the glass flowers to them. My dad was smiling from ear to ear. I was literally bawling my eyes out.



This was what I wore on my graduation, underneath the robe. It was a struggle because I have to sit straight and still all day. The top is another kebayaand the matching wrap and skirt is called songket, there are lots kind of songket, what I wore is from Palembang.


It was such a long and tiring day. I don't even stay for the "after-party" because all I want is just my bed. So after lunch and photo session with my family, we went straight home and it took me literally an hour to clean up all the make up and hair do. Then I went to sleep. All day. Talked about the 3.5 years of struggling and now being a Bachelor. Ha.

I think I should be talking about some inspirational things because this was my graduation, but I cannot think of anything quote-worthy right now because all I want is just to sleep. It was a really beautiful day, indeed. I feel so blessed and special. I guess I'll save the speech until next time... and maybe I'll edit this post again later.

That's that for now. I am a really happy and thankful Bachelor of Communication Science.
Thank You so much, Jesus.

February 24, 2014

Thesis Defence? Check!


"Analisis Semiotika Komunikasi Visual pada Isu Seksisme dalam Iklan Layanan Masyarakat United Nations Women"
"Sexism Issue on United Nations Women Public Service Announcement: A Semiotic Analysis of Visual Communication"

Today was my thesis defence. I thought I will be so frighten and anxious and nervous and other stuffs because I just got back from Jakarta (The2014AEO) on the night before the defence. Tired and lack of sleep caused my brain to start imagining ridiculously things, like what if I tripped on the cables? What if my high heels suddenly betrayed me? Yeah, I am easily annoyed by the very simple thing like that.


Me (pouting),
snapped by my assessor and uploaded to her Path account and she said she's proud of me. *tears*

At the end of the day, I feel relieved, happy, satisfied, and proud. Partly because whatever happened, I stood up for my educational thought. I stood up for my assessors. I stood up for my parents' and friends' support, and Taylor Swift's songs (yeah, I made up this one). I stood up and that was what satisfy me the most.

I would like to express my gratitude to everyone who took a part on this phase of life journey. I cannot stated them one by one (trust me, if I could then I would), so here's a huge virtual hug for everyone, like my parents, brother, friends, lecturers, two very friendly boys who works in a computer rental who helps me print out the very last page of my thesis because I ran out of ink at night, all the employees in all cafe/bistro/fast food joint for letting me typed for hours without kicking me out. THANK YOU!

P.s.: Yes, I passed with flying colours. Yay!